Bonek dan Semangat Perjuangan

oleh: Andy Fuller

Memang agak sulit menjadi seorang ‘pengamat sepakbola Indonesia’, kalau tinggal di luar Indonesia itu sendiri. Tetapi, derasnya berita dan posting di sosmed menjembatani jarak di antara ‘di luar’ dan ‘di dalam’ Indonesia. Aktivitas para Bonek dari Surabaya (dan di kota lain) sering mengingatkan saya betapa ramainya wacana sepakbola di Indonesia. Sepakbola memang adalah sesuatu yang harus diperjuangkan. Dalam perjuanganan sepakbola, yang di garda terdepan, menurut saya, adalah para supporter Persebaya, yang diberi julukan abadi: Bonek. 

Kadang-kadang saya bercanda dengan teman, bahwa yang terjadi di lapangan tidak begitu penting untuk mengerti (ataupun menikmati) dunia sepakbola Indonesia. Mungkin, kita sudah begitu familiar dengan tuduhan atau pengetahuan bahwa ada terlalu banyak kejanggalan yang terjadi di lapangan. Fakta bahwa wasit bisa ‘dibeli’ adalah sebagaian pengetahuan umum. Tetapi, kenapa hanya wasit disalahkan? Si wasit mengerjakan tugasnya di bawah beberapa macam tekanan: gaji yang mungkin tidak reguler, ancaman dari pemain dan supporter dll. Para pemain juga menerima uang sampingan. Banyak dari mereka juga tidak bisa disalahkan. Mereka juga ada keluarga yang harus dihidupi: dan kita semua tahu bahwa menjadi seorang pemain sepakbola adalah piliihan karier penuh dengan precarity

Sepakbola menjadi penting bagi saya sebagai peneliti ketika saya semakin menenlusuri proses urbanisasi di Indonesia. Saya melihat bagaimana sepakbola hidup tidak sebatas stadium, tetapi juga di perjalanan kota. Ada mural sepanjang jalan; ada pawai, dan tentu saja, ada juga aksi sweeping. Stadium dan hari pertandingan tidak cukup menampung semangatnya para supporter. Atau, dengan kata lain, sepakbola memiliki fungsi lain daripada menguji kemampuan satu tim melawan tim lain. Para manajer, pelatih, pemain dan staf professional yang lain, seolah-olah menjadi bagian terpisah daripada kebudayaan supporter. Sebuah klub adalah yang menampung ingatan bersama; arsip dan trajectory sebuah kota; dan menjadi semacam ‘alat’ untuk memperjuangkan ruang publik di dunia urban. 

Kebanyakan supporter sepakbola domestik adalah orang urban; banyak juga yang bisa dianggap ‘miskin’ ataupun tidak memiliki pekerjaan tetap. ‘Miskin’ mungkin dari segi ‘gaji’; tapi tidak ‘miskin’ dalam hal kreativitas, tenaga, dan daya pikir yang kritis. Fakta semacam ini bisa dilihat dari koran semacam Tempo atau Kompas, yaitu koran kelas menengah, yang jarang sekali meliputi liga domestik. Kedua koran ini tidak meliputi perjalanan musim sepakbola dengan seksama; tetapi, yang menarik perhatian mereka hanya adalah konflik internal dari PSSI dan politiknya persepakbolaan. Koran Tribun, yang ada di cukup banyak kota di Indonesia, menjadi salah satu acuan andalan untuk ‘berita’. Ada ‘Bola’ juga: tapi dengan begitu banyak iklan yang gemerlapan, beritanya memang sulit dibaca. Yang jauh lebih ramai dan lebih menarik untuk dibaca adalah media yang dikelola oleh para supporter sendiri: yang, selama 15 tahun terakhir ini, semakin ramai dan professional. Salah satu contohnya adalah Sejarah Persebaya.

Hanya ada satu kata

Sejak mulai meneliti sepakbola Indonesia, saya tidak pernah mau terlalu berfokus pada kekerasan di anatara supporter ataupun korupsinya di PSSI dan administrasinya. Bagi saya, keduanya saling berkaitan: kalau ada pembenahan di badan administrasi, pasti ada pengaruh positif terhadap perilaku supporter di dalam atau di luar stadium. Selama masa pasca-Suharto, liga domestik mengalami semacam ‘krisis kepercayaan’ berkepanjangan: orang yang menjabatani posisi otoritas di PSSI tidak dipercayai oleh supporter secara umum. Walaupun Indonesia sudah beberapa kali mengalami revolusi, belum ada revolusi sepakbola yang bisa mengubah cara para pejabat menginteraksi dengan segala pihak yang berkepentingan dalam persepakbolaan Indonesia, termasuk, tentu saja, para supporter. Tidak akan pernah ada perubahan tanpa supporter didengarkan dulu. 

Secara umum, dalam beberapa tulisan saya, saya berusaha untuk mengekedepankan bagaimana sepakbola mencipta kemungkinan untuk masyarakatnya. Dalam hal ini, saya mengacu pada ‘fans’, atau ‘supporter’. Bagi saya, supporter liga domestik seringsekali diberi citra yang tidak positif: mereka dianggap sebagai perusuh, suka kekerasan, dan sering bikin masalah di jalanan. Walaupun, sering sekali ada kekerasan antar supporter, inilah semacam gejala yang disebabkan oleh masalah lain. Misalnya: kemiskinan, kekurangan kesempatan untuk kaum marjinal dan korupsi di segala tingkatan pemerintahan. Menjadi seorang supporter adalah taktik untuk mencari kesempatan dan kemungkinan baru. 

Kehidupan sepakbola di Indonesia ada di pihak supporter. Salah satu inisiatif yang penting adalah Bonek Writers Forum. Bonek tetap sebagai kelompok supporter yang legendaris. Mereka diketahui sebagai kelompok supporter pertama yang pergi jauh untuk mendukung tim kesayangan. Menjadi seorang Bonek tidak bisa dipisahkan dari identitas diri. Tapi, sama dengan banyak kelompok supporter lain, Bonek sering dipandang dengan cara yang tidak pantas. Dua usaha yang patut kita perhatikan adalah pendirian Bonek Writers Forum (BWF) dan Bonek Disaster Response Team (BDRT).  Dengan dua pendirian ini, kita bisa melihat bahwa para Bonek (yang jamak dan plural) sangat sadar akan posisi sosialnya. 

Bonek adalah nama yang diberi pada semacam ‘semangat’ (spirit, emotion, energy). Kata ‘Bonek’ itu tidak bisa dibatasi, dibungkus dan dimiliki siapapun atau sekelompok mana pun. Artinya dan asosiasi kata ini cukup jelas: berani melakukan apapun demi membela tim Persebaya dan membela kota Surabaya. Bagi saya, ‘Bonek’ juga istimewa karena asosiasinya dengan kaum rakyat miskin kota. Seperti kita tahu, Surabaya adalah kota industri, kota pelabuhan dan memiliki tradisi kuat dalam pergerakan buruh. Para Bonek ini mewarisi tradisi perjuangan dari zaman revolusi. Arek-arek Suroboyo zaman sekarang tidak mungkin diam dan menerima segala ketidakadilan yang dihasilkan oleh PSSI. Dengan hegemoni FIFA di seluruh dunia, kita patut berterimakasih pada tenaga dan kerjaannya para Bonek. 

Harapan saya, adalah bahwa para Bonek tetap kompak dan tetap membela hak supporter dan kaum marjinal di Surabaya. Sepakbola adalah milik para supporter; bukan perusahaan besar dan konglomerat, apalagi PSSI ataupun FIFA. 

Comments are closed.