10 NOVEMBER 2

Pengakuan Seorang Groundhopper

Saya pernah memimpikan menjadi seorang Fillipo Inzaghi, mencetak gol, lalu merayakannya dengan begitu emosional sambil berlari dan berteriak ke pojok lapangan , dan ribuan orang yang memenuhi setiap sudut stadion pun ikut berteriak karena saya.

Sayangnya waktu begitu cepat berlalu, usia saya kini 24 tahun dan bukannya saya sudah tergabung di klub Ac Milan atau Juventus, sekarang saya adalah bagian dari ribuan manusia yang juga gagal mewujudkan mimpi menjadi pemain sepakbola itu. Perasaan sesal selalu menyelimuti saya saat mendapati kenyataan itu. Namun ironisnya, penawar kekecewaan itu adalah saat saya datang ke stadion untuk menonton sepakbola itu sendiri.

Karena saat kamu sungguh tak bisa menggapai sesuatu itu, hal terbaik adalah dengan membayangkannya saja , bukan? Dan menurut saya stadion adalah terbaik untuk menghayal menjadi pemain sepakbola itu. Ikut merayakan terciptanya gol di stadion bersama banyak orang ternyata rasanya tak jauh beda rasanya. Atau sama-sama bernyanyi merayakan kegagalan menjadi pemain sepakbola bersama ribuan orang yang duduk di tribun itu.

Kini sudah banyak stadion yang saya kunjungi, sekurangnya 60 stadion dan ratusan pertandingan di seluruh Indonesia. Di samping untuk keperluan saya bernostalgia dengan cita-cita masa kecil, saya juga mendapat banyak pengalaman dari kegiatan saya itu. Saya jadi mengenal banyak daerah di Negara saya, dan bahkan banyak tau tentang tipe stadion di Indonesia.

***

Jika Anda pernah menonton sepakbola secara langsung di Indonesia, anda memang tidak akan menemukan stadion dengan kualitas sebaik stadion-stadion modern di Eropa. Jangan dulu bicara soal kenyamanan menonton sepakbola dengan dukungan teknologi masa kini atau tempat duduk empuk kelas premium yang selalu dalam stadion yg lazim ada di stadion milik negara maju. Karena di Indonesia untuk mendapatkan tempat duduk saja kita harus berebut demi mendapat spot terbaik -karena jika kita membeli tiket tidak sekaligus dapat nomor tempat duduk, kita harus mencari sendiri. Di sini masih jarang stadion yang full-seat. Namun nikmatnya malah di situ, kita bisa lebih bebas untuk melompat bahkan berlari mendekati lapangan saat merayakan gol.

Mayoritas stadion di Indonesia masih tribun berdiri. Anda bisa berjalan mengelilingi stadion saat pertandingan sedang berlangsung, Anda bisa berpindah tempat duduk sesukanya selama masih ada tempat kosong, bahkan anda bisa naik ke pohon jika anda mau, eh, naik pohon? Mungkin anda heran, tapi Anda bisa menonton sepakbola Indonesia dengan cara seperti itu.

Dari 60 stadion di Indonesia yang sudah saya kunjungi, saya selalu tertarik dengan sadion yang mempunyai pohon di dalamnya. Pohon itu tumbuh di atas tribun tempat penonton biasa duduk. Bayangkan saja, adalah pohon yang tumbuh di dalam stadion. Sangat unik dan mungkin kini stadion seperti itu tak banyak di dunia ini. Daripada membangun ulang stadion dan menambahinya dengan atap, cara tradisional ini sudah cukup untuk memberi kenyamanan dan lindungan untuk penonton dari panasnya sinar matahari ala kadarnya. Dan di Indonesia, dari beberapa stadion yang telah saya kunjungi, setidaknya ada 5 yang unik seperti di atas. Yang pertama adalah Stadion Sriwedari.

1. Sriwedari

Stadion Sriwedari di kota Solo merupakan stadion legendaris di Indonesia. Pembangunan Sriwedari dimulai pada tahun 1932 di tanah yang dulunya milik Keraton Kasunanan Surakarta. Inilah stadion tertua di Indonesia yang dibangun oleh pribumi, karena jaman itu kebanyakan fasilitas umum dibangun oleh Belanda. Selain keistimewaan itu, sriwedari juga jadi penuh sejarah karena di sini juga menjadi tempat pesta olahraga pertama Indonesia (PON) diselenggarakan pada tahun 1948.

SRIWEDARI 4

Stadion Sriwedari, Solo

2. Trikoyo

Tak jauh dari kota Solo, ada stadion Trikoyo Klaten. Kandang PSIK Klaten ini memang tak banyak orang yang tau. PSIK sebagai klub sepakbola sudah lama vakum, tak heran stadion ini jarang digunakan untuk event sepakbola berskala nasional. Hanya setiap sore tempat ini banyak didatangi masyarakat sekitar untuk sekedar jogging dan olahraga ringan. Namun walaupun demikian, saya menaruh perhatian pada Trikoyo yang juga memiliki pohon dalam stadionnya. Sebelum tahun 2015 seluruh tribun Trikoyo memiliki pohon, namun tahun lalu stadion ini direnovasi dan mengakibatkan pohon pada bagian timur ditebang untuk digantikan tribun baru.

TRIKOYO 2

Stadion Trikoyo

3. Ketonggo

Stadion milik pemkab Ngawi ini juga cukup unik. Luasnya tak begitu besar, bentuknya persegi dengan hanya mampu menampung 10 ribu penonton. Namun dengan kesederhanaan itu membuat pohon yang ada di tribun selatan dan utara jadi terlihat gagah dan berguna. Jelas dengan keberadaan pohon ini bagi penonton yang berada di belakang gawang bisa merasakan nyaman dengan rindangnya pepohonan itu. Panas kota Ngawi jadi tak begitu terasa kala Pasti Mania (suporter Persinga ) menonton tim kesayangannya bermain.

KETONGGO

Ketonggo

4. Citarum

Sebelum pindah ke stadion Jatidiri, kandang PSIS Sebelumnya adalah stadion Citarum. Stadion ini terletak di daerah Bugangan, Semarang Timur. Bagi PSIS Semarang, stadion ini adalah yang kedua bagi mereka, karena sebelumnya mereka berkandang di stadion Diponegoro. Walaupu akirnya PSIS berpindah ke stadion Jatidiri sampai sekarang, Citarum tetap tak bisa dilepaskan dari sejarah Mahesa Jenar (julukan PSIS). Di stadion Citarum juga gelar juara liga Indonesia tahun 1988 diperoleh PSIS Semarang. Di sini taak hanya sejarah sepakbola Semarang yang tertulis di sana namun juga sepakbola Indonesia.  Namun saya tak mengira kini dalam kondisi yang memprihatinkan. Sampah tersebar di mana-mana dan beberapa sudut stadion sudah rusak dan usang. Satu yang masih membuat indah dari stadion ini yakni dengan keberadaan pohon cemara yang berdiri di sisi selatan dan utara.

CITARUM

Stadion Citarum

5. TAMBAKSARI 10 NOVEMBER

Yang terakhir tentu saja stadion legendari di Surabaya, mantan kandang Persebaya Surabaya, Gelora 10 November.  Tribun yang tinggi, tembok yang gagah dan tiang lampu lawas yang terdapat di dalam stadion membuat siapapun merasa keangkeran stadion yang juga memiliki nama lain Tambaksari. Ada satu lagi faktor yang menambah angker Tambaksari, yakni lagi pohon tinggi yg menjulang keatas pada tribun stadion ini. Bayangkan saja ketika persebaya bermain, stadion ini selalu berwarna hijau oleh puluhan ribu Bonek sekaligus suara mereka yang siap menggetarkan hati siapapun. Seperti juga Sriwedari, stadion ini juga pernah menggelar PON yang ke 7 tahun 1969. Namun kini Gelora 10 November sudah ditinggalkan karena Persebaya tak jelas statusnya di hadapan PSSI. Kalaupun Persebaya aktif lagi, kemungkinan stadion yang lebih besar kapasitasnya yakni Gelora Bung Tomo yang lebih dipilih. Segala hormat untuk stadion ini dan seluruh sejarah di dalamnya. Tempat di mana klub legendaris Persebaya terakhir kali angkat piala pada tahun 2003 lalu.

10 NOVEMBER

The legendary, the greatest, the one and only … Tambak Sari



Reading Sideways