Screen Shot 2018-07-23 at 2.04.06 pm

Sepak Bola dalam Hibrida Komik

Komik sepak bola, apakah itu suatu genre? Dalam istilah ini terjanjikan kesamaan formulaik yang repetitif, tetapi sebagai konsep yang dihasilkan oleh pengamatan, dalam suatu genre ternyata berlangsung proses hibrida dengan berbagai elemen, sehingga pada prakteknya selalu bervariasi (Grant, 2007: 23). Maka berikut ini, meski ketiga komik mengandalkan sepak bola sebagai wacana dominan, faktor momen sosial historis, konteks, dan politik membuat varian perbedaannya tajam, jika tidak bertentangan. Apabila dalam kesamaan genre suatu naratif lazimnya terjajar paralel, ketiga komik ini bagaikan saling memunggungi dalam naratif sepak bolanya masing-masing.

Sepak Bola Vs. Kriminalitas

Tokoh fiktif serial Roel Dijkstra ini disebut mengacu karier Johan Cruyff (1947-2016), yang jika Cruyff tercatat berpindah-pindah dari Ajax Amsterdam, FC Barcelona, Los Angeles Aztecs, dan Washington Diplomats sebelum balik lagi ke Eropa; begitu pula Dijkstra dari klub sepakbola Leidrecht di Belanda , berpindah ke FC Hadford di Inggris, FC Union di Korsika, lantas FC Rapiditas di Spanyol. Dengan kata lain, tokoh dan latar komik seri Roel Dijkstra ini lahir bersama kebangkitan sepakbola Belanda, yang dengan pola totale voetbal membuat Ajax merebut Piala Eropa antar Klub berturut-turut tahun 1971-1972-1973, dan pada 1974 dalam Piala Dunia, Belanda masuk final sebagai favorit, untuk dikalahkan Jerman Barat.

Sepintas lalu komik seri yang berawal dari kreasi Jan Steeman dan Andrew Brandt tahun 1975 ini seperti success story, yang memberi makna pada jatuh bangun perjuangan. Dalam komik sepak bola, ini berarti perjuangan dengan segenap sarana bola, bahwa banyak rintangan harus dilampaui di lapangan, sebelum sampai pada keberhasilan. Namun dalam komik seri Roel Dijkstra rintangan juga berada di luar lapangan, misalnya seperti dalam judul “Halangan”, kesebelasan lawan seperti Vortex dan Capricorn harus bisa mengalahkan Leidrecht demi kepentingan di luar lapangan, seperti bisnis. Demi berhasilnya kepentingan tersebut, cara kekerasan di dalam dan di luar lapangan digunakan. Bila perlu bahkan cara-cara kriminal, seperti menembak Roel Dijkstra dengan suntikan penidur.

Dengan naratif seperti itu, 21 seri komik sepak bola yang setelah 10 tahun diteruskan Keith Watson/Dave Hunt-Jaap Bubenik; Lebovik Marinko/Jaap Bubenik-Roy Robson; berhibrida dengan crime story atawa genre cerita kriminal sampai 1995, dengan resep dan rumus yang sudah lama dikenal: berikan tekanan yang makin lama makin berat diatasi sang tokoh, untuk akhirnya tetap berhasil mengatasi juga, bahkan dalam hal ini di dalam dan di luar lapangan sekaligus—yang akan dirasakan sebagai suatu ekstase bagi pembacanya. Begitulah memang komik hiburan, yang pernah dimuat berseri di majalah HAI tahun 1980-an itu.

Tentu alur khas dunia sepak bola profesional, seperti adaptasi di negeri asing, bisnis transfer yang penuh manipulasi, dan persahabatan antarpemain, tidak ditinggalkan—tetap ada sesuatu dari sepak bola yang membuatnya tetap ber-genre komik sepak bola. Betapapun, hibrida dengan cerita kriminal membuatnya jadi hero di dalam dan di luar lapangan.

Ilmu Pengetahuan Gerak

Pada sampul Football Nation 1 (2010) tertera bahwa Yuki Otake, penggubahnya, dibantu oleh penasehat ilmiah Hideo Takaoka dari Institut Riset Ilmu Pengetahuan Gerak. Seperti apa komiknya? Rupa-rupanya komik ini berusaha menukik ke dalam subjek sepak bola secara radikal, dengan membawa ilmu pengetahuan ke dalam wacana sepak bola, dari tubuh sampai ruang, sehingga alur tentang “peningkatan mutu” kesebelasan Liga Divisi III Tokyo Crusade menjadi kitab mengasyikkan tentang segala aspek yang melekati sepak bola.

Tentang cara berlari seorang pemain misalnya, disebutkan bahwa sebagian besar pemain Jepang berlari dengan cara lari paha depan (front thigh running), dalam langkah-langkah pendek, menggunakan paha depan (quadriceps) untuk mengangkat paha; kaki bergerak berlebihan ketika kepala bergerak ke atas dan ke bawah.

Kebalikannya, sebagian besar pemain Liga Eropa kelas atas dan negeri kompetitif lain, gerak lari paha belakangnya (back thigh running) mengalir. Saat berlari dalam langkah panjang, pemain menggunakan otot-otot paha belakang (hamstring) dan tubuh bagian bawah, otot-otot dalam otot illiacus dan otot utama psoas (keduanya penghubung tungkai dan tulang belakang) untuk mengayun kaki mereka secara dinamis; poros tubuh tidak ragu dan postur tertarik tanpa kepalanya naik turun. Yang terakhir ini disebut “lebih photogenic” daripada sebelumnya, seperti kata juru foto dalam komik itu. Masalahnya, perbedaan ini bersifat alamiah atau kultural?

Tampak seperti teks akademik tentang gerak tubuh, tetapi Football Nation 1 juga mempersembahkan drama kejutan dalam sepak bola, ketika tim underdog yang dipandang sebelah mata mengalahkan lawan-lawannya. Drama sepak bola berselang-seling dengan drama manusia. Chihiro Oki, pemain bola bon-bonan (freelancer) yang bisa bermain di segala posisi, memiliki kemampuan main bola dengan dasar ilmiah: sementara berada di lapangan, matanya memiliki pandangan mata burung, dan mengoper bola bukan ke tempat pemain berada, melainkan ke tempat pemain seharusnya berada. Operan diperhitungkan dengan kecepatan lari, luas lapangan, dan ketakterdugaan arah tendangan. Disebutkan betapa kehadiran “The Joker” Chihiro Oki akan meningkatkan kualitas permainan.

Dalam konteks hibrida, alur kompetisi dilebur dalam kombinasi teks ilmiah tentang gerakan tubuh dan ruang gerak, maupun alur cerita tentang latar Chihiro Oki, yang ternyata pernah masuk penjara bawah umur, karena mengakui pembunuhan yang dilakukan seorang kawan, demi menyelamatkannya. Gambar pisau berkilau menyisip di berbagai adegan sampai menjadi jelas konteksnya, membuat naratif Football Nation 1 pun “berseni”.

Sepak Bola Mbah Kartun

Johnny Hidayat Ar (1942-2012) adalah trade mark jaminan gelak, karena dia memang Mbah Kartun Indonesia, dalam kartun-kartun satu sampai empat panil. Dalam Bung Joni Main Bola (1976), komik 23 halaman yang beredar di stasiun kereta api dan terminal bus, konstruksi budaya sepak bola dibongkar dan disusun kembali secara jungkir balik, sesuai dengan fitrah humor yang bermain-main dengan kemapanan logika.

Alkisah Bung Joni adalah gembala bebek, dan bebek adalah makhluk penurut yang jalannya selalu urut. Namun saat harus masuk kandang, bebek-bebek suka mbalela alias berontak tiada sudi memasukinya. Maka Joni pun mempekerjakan tendangan mautnya agar bebek-bebek yang berkeliaran meluncur langsung ke kandang, bagaikan bola nyeplos ke gawang. Nah, pelatih bola yang mencari bibit pemain bagi persiapan Olimpiade kebetulan melihat, dan segera merekrutnya.

Di lapangan, bola yang ditendang Joni memang langsung masuk gawang lawan, tetapi ketika penjaga gawang mengambilnya, langsung direbut dan ditendangnya lagi. Rupa-rupanya Bung Joni tidak tahu peraturan, sehingga ia juga membawa bola dengan tangan, menembak ke gawang sendiri, menghancurkan kaki-kaki pemain lawan, dijadikan penjaga gawang, yang mematahkan tiang-tiang gawang, dan ketika bola meletus para penonton melemparkan 26 bola baru. Joni pun menembak ke dua gawang yang kemudian masing-masing berisi 13 bola. Alhasil, piala dibelah dua.

Komik sepak bola satu ini berhibrida dengan wacana humor, tempat teknik bisosiasi menjadi ciri terpenting, ketika alur menggantikan setiap harapan dengan kenyataan tak terduga. Humor memperluas paradigma sepakbola dan mendorongnya sampai batas cakrawala, yang menuntut keluasan pemahaman setara agar bisa tertawa. Hanya yang mengenal peraturan sepak bola dapat terlibat permainan humor tentang sepak bola.

Genre: Klasifikasi yang Selalu Retak

Keberadaan genre merupakan determinasi kepentingan pasar, karena “yang jelas” lebih mudah dijajakan daripada yang sebaliknya. Akibatnya, kategorisasi sebar garam (gebyah uyah) melahirkan klasifikasi yang tidak selalu konsisten. Ketiga komik ini, karena muatan sepak bola yang dominan di dalamnya, tampak memenuhi syarat termasukkan ke dalam genre komik sepak bola. Namun sekadar menengoknya, ternyata ketiga komik ini saling memunggungi dengan pandangan-dunia ke tiga jurusan: (1) heroisme pemain bola dengan ketegangan cerita kriminal dalam seri Roel Dijkstra; (2) obsesi idealisme sepak bola sebagai olah gerak dan permainan dengan kapasitas akademik dalam Football Nation; (3) semangat humor yang menjungkirbalikkan kemapanan paradigma sepak bola dalam Bung Joni Main Bola.

Memang belum terperiksa momentum sosial historis, konteks, maupun politik yang menyebabkan perbedaannya. Betapapun, kiranya tiga pandangan-dunia yang tidak searah ini cukup untuk menunjukkan, proses budaya bukanlah proyek kesempurnaan piramid yang monolitik, melainkan pengguguran mitos kesempurnaan nan berkepentingan itu, justru melalui pembongkaran terus-menerus atas dasar konstruktifnya. Begitulah, yang tidak-membongkar tidak ambil bagian.

SENO GUMIRA AJIDARMA,

wartawan.

First published in Kompas, 21st July 2018



Reading Sideways