Estadio Centenario - small

Sepak Bola & Eduardo Galeano

Sepak Bola & Eduardo Galeano

Ada buku yang ditulis Eduardo Galeano, judulnya, Soccer in Sun and in Shadow – penerbitnya Verso (2013). Ini salah satu buku kesukaanku. Buku ini melintasi beberapa genre. Soccer in Sun and in Shadow tampak jelas sebagai buku olahraga, tepatnya sejarah sepak bola di Amerika Selatan, dan lebih tepat lagi, dua negara Uruguay dan Argentina sering menjadi rujukan utama. Galeano adalah seorang cendekiawan yang memiliki riwayatnya sendiri sebagai pemikir kritis dan lugas. Dia, bahkan mampu menceritakan dan menganalisa masalah pelik dengan gaya yang santai dan berasal dari tradisi lisan. Dia hadir sebagai seorang juru cerita. Jadi, tak mengherankan kalau dalam buku ini, setiap bab biasanya tak lebih dari dua atau tiga halaman. Ada cukup banyak bab yang hanya berbentuk satu alinea saja.

Aku menikmati buku ini. Aku merasa buku ini tak bisa dibatasi pada genre ‘buku olahraga’ atau ‘buku [tentang] sepak bola’. Galeano tidak hanya menulis sejarahnya sepak bola di Amerika Selatan (dan secara umum) dia juga melontarkan kritik pada dunia bureaucracy sepak bola, khususnya FIFA dan Sepp Blatter  secara khusus. Di lain pihak, buku ini kaya dengan cerita dan anekdote tentang sepak bola di Uruguay khususnya. Cerita-cerita diungkapkan dengan gaya seorang menyampaikan cerita dari mulut ke mulut. Ini buku ada hasilnya dari budaya lisan. Dan oleh karena itu, banyak ceritanya terbaca seperti mythos dan legenda.

Galeano mencintai apa yang indah di lapangan sepak bola. Yang indah dibuat lebih indah lagi; yang tragic dibuat lebih tragic lagi. Ini hasilnya cerita yang disampaikan dari orang ke orang ke orang ke orang lagi. Mungkin cukup banyak yang ditulis oleh Galeano di buku ini adalah pengetahuan umum di Uruguay; sudah masuk imaginasi nasional orang Uruguay. Di bawah ada kutipan tentang Jose Leandro Andrade:

“Europe had never seen a black man play soccer. In the 1924 Olympics, the Uruguyan Jose Leandro Andrade dazzed everone with his exquisite moves. A midfielder, this rubber-bodied giant would sweep the ball downfield without ever touching an adversary, and when he launched the attack he would brandish his body and send them all scattering. In one match he crossed the field with the ball sitting on his head. The crowds cheered him, the French press called him “The Black Marvel”. […] He died of tuberculosis, in utter poverty. He was black, South American, and poor, the first international idol of soccer.” (Galeano, 2013, p.53.)

Buku ini memberi semacam catalogue dari semua unsur yang terlibat dalam olahraga sepakbola: si wasit, si pemain, para supporter, para fanatik. Dan bukan hanya itu tetapi benda-benda yang dianggap sebagai sesuatu yang ‘mati’ – yaitu bolanya itu sendiri. Dan dalam bab itu, si bola itu selalu dianggap sebagai perempuan, atau sebagai sesuatu yang hidup dan memiliki kepribadian sendiri. Saya juga teringat kepada filem tentang tim Colombia yang ikut main di piala dunia di Amerika Serikat. Mereka juga mengatakan bagaimana si bola itu menolak masuk gawang dalam pertandingan pertama mereka. Bagi para pemain, kejadian itu sudah menjadi pertanda bahwa nasib mereka pasti sial.

Uruguay in the day of Jose Leandro Andrade - small

Galeano memberi latar belakang sosial politik sebagai pengantar untuk setiap piala dunia yang diadakan sejak 1934. Latar belakang ini bersifat daftar saja. Misalnya, The 1958 World Cup: ‘The United STates was launching a satellite into the high heavens, a new little moon to circle the earth. It crossed paths with Soviet Sputniks but never said hello. […] In Hungary, Imre Nagy was being shot along with other rebels from ’56 who wanted democracy instead of bureaucracy, and dying too were the Haitian rebels who had launched an assault on the palace where Papa Doc Duvailier reigned amid sorcerers and executions (Galeano, 2013 p.114).

Buku ini adalah semacam pengantar pemikiran Eduardo Galeano. Bisa juga dipakai sebagai alat-pikir bagi menganggap dan menganalisa olahraga lain di konteks lain. Buku ini adalah upaya untuk memahami sepakbola dengan kesadaran sepenuhnya terhadap mimpi dan kenangan para supporter.



'Sepak Bola & Eduardo Galeano' has no comments

Be the first to comment this post!

Would you like to share your thoughts?

Your email address will not be published.

Reading Sideways