Tragedi Kanjuruhan dalam Konteks Sepakbola Indonesia

Oleh: Andy Fuller. Diterjemahkan oleh Fiky Daulay.

Sepakbola dimotori oleh persaingan. Persaingan-persaingan ini berada di dalam dan luar lapangan: di antara penggemar dan para pesepakbola. Semangat para penggemar melejitkan nilai hak-hak tayang pertandingan besar di televisi. Stadion-stadion diperjualbelikan untuk memenuhi kapasitas dan sports bar termasuk pubs penuh ketika penggemar fanatik terpaku pada pertandingan sepakbola. Antar-kota, atau di dalam kota yang sama, pertandingan-pertanding derby menandai penanggalan para penggemar; terlepas di mana tim mereka berada di klasemen, memenangkan derby adalah sebuah perkara tentang nilai yang berbeda. Pertandingan-pertanding derby Feyenoord – AjaxEverton – Liverpool, Atletico Madrid – Real Madrid, dan bahkan liga terbaru Liga A Australia, Melbourne Victory – Melbourne City – ditandai dengan euphoria yang meluap. Setiap keputusan wasit semakin penting, tekelan semakin keras, nyanyian dari teras stadion semakin keras dan semakin berulang. 

Sepakbola di Indonesia ditandai oleh dua pertandingan derby utama: di Jawa Barat – antara Persija dan Persib (dan penggemar mereka, Jakmania Persija dan Bobotoh dan Viking Persib) dan di Jawa Timur: Persebaya (dan para Bonek) dan Arema (dan para Aremania). Persaingan yang sama keras dan penuh gairahnya antara PSIM Yogyakarta dan Persis Solo, yang meskipun terjadi dalam skala yang lebih kecil, memiliki pola-pola yang sama. Persaingan-persaingan ini melibatkan pertarungan jalanan yang semi-terorganisir, pembunuhan para pendukung yang tertangkap basah mengenakan warna yang salah pada waktu dan tempat yang salah, hadiah diletakkan pada kepala-kepala tokoh-tokoh tertentu, dan sebuah pemahaman yang sama bahwa para penggemar tidak akan melangkahi kota dari tim musuh. Persaingan ini hadir di luar hari pertandingan dan ruang sosial yang terbatas di stadion. Menegosiasikan keliyanan, keterpisahan dari musuh dekat adalah sebuah realitas bagi penggemar klub-klub (besar) ini. 

Pendapatan dan jumlah tayang calon peringkat atas liga domestik bergantung pada klub-klub besar ini. Oleh karena itu, pertandingan Arema-Persebaya adalah salah satu pertandingan yang dilangsungkan pada malam hari. Banyak pertandingan dimulai pada pukul 15:00: memungkinkan orang-orang untuk mendayagunakan transportas umum yang terbatas, yang kian menyusut pada malam hari. Pertandingan-pertandingan siang hari, seringkali diadakan pada hari-hari kerja, yang juga lebih dapat dikendalikan dan terwadahi dalam sebuah perspektif ‘keamanan’. Langkah-langkah keamanan ini pun berlawanan dengan ambisi-ambisi liga pertandingan itu sendiri untuk menjangkau penonton sebanyak mungkin. IndoSiar, siaran utama dari BRI Liga 1, kemudian enggan untuk mengikuti saran dari panpel (panitia pelaksana) dan menggeser derby Jawa Timur ke jadwal yang lebih awal. Mereka tidak ingin produk-produk laku mereka dikompromikan. Juga atas nama memaksimalkan pendapatan, Arema FC menjual 42,000 tiket untuk stadion Kanjuruhan, yang memiliki kapasitas resmi 38,000. PSSI yang selalu masa bodoh, membiarkan alasan-alasan ini berjalan begitu saja. 

Setelah beberapa tahun tanpa perhatian dan banyak konflik yang melibatkan Bonek Persebaya, PSSI dan FIFA, hambatan covid dan lain-lain, berlanjutnya persaingan-persaingan ini di dalam sepakbola Indonesia adalah kemenangan kecil. Hubungan-hubungan erat antara penggemar dan tim sepakbola berarti bahwa selama satu minggu sebelum pertandingan beragam penggemar berjumpa dengan para pemain, menyampaikan pentingnya pertandingan tersebut dan persaingan bagi mereka. Ia adalah sebuah itikad baik dari klub bagi para penggemar, yang menunjukkan seberapa besar para penggemar terwadahi dengan wujud yang lebih besar dalam perjalanan klub-klub tersebut. Beberapa liga di dunia dapat belajar dari hal ini. Dilarangnya Bonek (penggemar Persebaya) untuk datang ke Malang – hanya beberapa ratus kilometer ke selatan – adalah sebuah kesempatan bagi mereka untuk memperluas harapan terbaik mereka ketika mereka bersiap untuk bermain di dalam sebuah lingkungan yang sangat agresif. 

Persebaya mencetak skor 2:0 memimpin di menit ke-32 sebelum Arema menghalangi kemenangan dengan skor 2:2 di akhir babak pertama. Pemenangnya adalah Persebaya, dicetak oleh Sho Yamamoto di awal babak pertama, menyulitkan penjaga gawang setelah bola terlepas dari pergelangan kaki seorang pemain belakang. Malam akan berakhir dengan cerita berbeda jika penyelamatan dilakukan atau jika Arema mencetak posisi pemenang. Pertandingan berlangsung selama 57 menit. Alih-alih merayakannya di lapangan, para pemain Persebaya berlarian ke arah lorong pemain. Pemain Arema menunduk kecewa. Kursi stadium tetap terisi penuh, beberapa penggemar bepergian menuju pintu keluar. Setelah beberapa saat momen keheningan seketika, gabungan teriakan marah dan nyanyian ditujukan kepada pemain dan sepertinya para wasit. Rekaman dari tayangan pertandingan resmi tidak memperlihatkan satu pun penggemar berlarian menuju lapangan. 

Yahya Al Katiri, manajer Persebaya, menghadirkan sebuah narasi dari peristiwa di malam tersebut yang sebagian besar luput dari reportase tragedi Kanjuruhan –  yang saat ini dibingkai oleh majalah Tempo sebagai pembantaian Kanjuruhan. Pada sebuah wawancara, ia bergabung di dalam Bonek Writers Forum termasuk saya dan anggota lainnya, ia mengatakan kisah kerusuhan di luar stadion: 

“Kami bilang kepada pemain untuk menyingkir dari lapangan sesegera mungkin. Kami memberikan mereka lima menit untuk mengganti pakaian dan kemudian menaiki kendaraan lapis baja Barracuda. Sebuah kerusuhan terjadi di luar stadion. Tidak hanya di dalam stadion. Saat kami menunggu, saya menguping HT polisi bahwa dua polisi telah tewas. [1] Barracuda kami juga diserang oleh para penggemar. Meskipun kami merasa aman, beberapa pemain, yang kebanyakan dari mereka masih muda dan tidak memiliki pengalaman semacam ini sebelumnya, kami mulai merasa was-was. Kami langsung kembali ke Surabaya dari Malang. Tidak banyak yang saya ketahui saat berada di Malang. Saya tidak mengetahui bagaimana rangkaian peristiwa-peristiwa yang terjadi di luar stadion berkaitan dengan apa yang terjadi di dalam stadion. Yang hanya dapat saya pahami bahwa kami berada di posisi yang rentan karena kerusuhan yang terjadi di luar stadion. Jelas tampak selama permainan berlangsung bahwa semuanya tidak akan berakhir dengan baik. Selama babak kedua, nyanyian terdengar: Bonek dibunuh saja [2] dan Bonek tidak bisa pulang. Apakah ceritanya akan berbeda jika kami kalah? Saya ragu dengan hal tersebut. Kami kalah 4:0 beberapa tahun lalu dan kami masih terus dilempari. Kalah atau meang di Malang, kami tahu bahwa kami akan diserang. Sejauh ini, polisi telah teridentifikasi sebagai yang bertanggung jawab atas tragedy ini. Tentu saja mereka bertanggung jawab. Tetapi mereka bukan hanya pihak yang memainkan peran penting pada peristiwa 1 Oktober 2022. Liga Indonesia Baru, PSSI dan penggemar tidak dikenal yang melakukan tindakan-tindakan provokasi. Kanal-kanal penyiaran juga harus bertanggung jawab karena memprioritaskan pertandingan malam hari, bahkan ketika penerangan di banyak stadium tidak mencukupi. Seluruh pihak-pihak ini harus akuntabel terhadap tindakan-tindakan mereka juga.”

Para penggemar yang berlarian menuju lapangan telah dipahami sebagai keinginan untuk menunjukkan dukungan mereka bagi para pemain. Hal ini adalah sebuah penyimpangan dari kontrak mendasar antara para pemain dan pendukung. Bagaimanapun, akan menjadi naif untuk berfikir bahwa masuknya penonton ke dalam lapangan sepenuhnya adalah niat baik. Arema pada akhirnya kalah 2:3 dari musuh tersengit mereka. Para pemain Persebaya mengetahui sepenuhnya bahaya yang dapat terjadi. Selama kerusuhan berlangsung di luar stadion, beberapa penggemar menyerang sebuah ambulans saat berusaha mengantarkan seorang penggemar yang menderita menuju rumah sakit. Tak ada malaikat dalam lapangan luas sepakbola Indonesia. Dalam hal ini, pun, aksi-aksi rusuh dari beberapa penggemar berperan sebagai pemicu bagi polisi untuk menggunakan as air mata. Gas air mata menyebabkan ketakutan dan kepanikan: dan ratusan orang, banyak anak muda dan anak-anak kecil, terinjak atau kesulitan bernafas hingga tewas. Para penggemar ini tidak berlarian ke lapangan atau menyerang polisi, terkecuali ambulans. Mereka tidak mengganggu urusan orang lain di kursi stadion hingga gas air mata ditembakkan ke arah mereka. 

Joko Widodo lega mengetahui bahwa FIFA tidak melayangkan sangsi bagi PSSI. Situasi normal. FIFA, yang telah memberikan piala dunia bagi Rusia dan Qatar, sulit menjadi pembela nilai-nilai moral. Mochamad Iriawan menolak untuk melepaskan peran mereka sebagai ketua PSSI. Beberapa anggota panpel telah dicabut dari peran mereka – meskipun terlihat sebagai usaha untuk mengaburkan kesalahan oleh PSSI dan polisi. Persaingan adalah bagian dari kesenangan dan sensasi sepakbola. Mereka tidak harus memasukkan nyanyian “bunuh saja mereka” (sebuah pernyataan serius, mengingat pembantaian tersebut, dalam konteks ini, bukanlah metafor bagi ‘kekalahan’) dan lari menuju lapangan – ruang sakral yang disediakan bagi para pemain, bagi mereka untuk berjaya. Seperti yang digadang-gadang oleh Mas Yahya dan para anggota BWF, para penggemar dapat melakukan dua hal untuk menghentikan praktik-praktik ini termasuk meredakan pertandingan-pertandingan derby antar kota dan menciptakan ruang sepakbola yang lebih aman. 

[1] Saya bertanya-tanya pada titik apa perintah penggunaan gas air mata diturunkan. Apakah perintah-perintah penggunaan gas air mata diberikan setelah pemberitaan tewasnya dua polisi telah tersebar? 

[2] Meskipun Bonek utamanya mengacu kepada penggemar Persebaya, istilah ini juga termasuk tim tersebut. 

*

Andy Fuller adalah seorang anggota penelitian pasca doktoral di Universitas Utrecht. Andy dapat dihubungi melalui a.c.s.fuller@uu.nl

Comments are closed.